Thursday, April 2, 2009

Hidup itu seperti Berlari menuju garis Finish

hari ini hari yg membuat saya merasa amat sangat sial dan sebel..

tapi akhirnya Happy Ending oq..

Dimulai Pagi Tadi
Aku sampe nggak kuliah Fisika gara2 jam wekerku baterainya habis
Sebenarnya sudah bangun sih, waktu itu melihat jam disamping bantalku menunjukkan 4 pagi
ya udah, tidur lagi deh
kemudian bangun lagi
koq, liat jam masih menunjukkan pukul 4 pagi?
Dan ini sudah terang sodara2!!
Liat jam di HP, busyet!! Ini jam 08.30!! Berarti aku ngga ikut kuliah pagi Fisika dari 07-09..
langsung bergegas ndak mandi, ganti baju, brangkat ke kampus..
parkir mobil, lari2 ke GKU Barat untuk mengikuti kuliah selanjutnya.. Kalkulus
Eh, di deket pintu GKU malah ketemu Dosen fisikaku.. Mr. Bagoes Endar.. Blaik!!
Tampaknya dia mengenaliku, lalu menyapa, "Hayo, tadi nggak masuk ya?"
Aku jawab, "Iya pak, kesiangan oq Pak.." dan berlalulah dia.. fiuhh..
Akhirnya mengikuti kelas Kalkulus

...
Kuliah selesai juga akhirnya pada jam 11, dilanjutkan kuliah rangkaian elektrik sampe jam 12 yg ternyata kuis mendadak..

Tapi cobaan masih belum selesai
Hari ini adalah hari saatnya UTS OLAHRAGA yg sangat.. Arghhhh!!! *!%$?#@!!!!!
Tepatnya jam 3 sore
Segera aku brangkat jam 14.40.. inilah cobaan berikutnya
Pas berhenti di bangjo, secara tidak sadar tuas tranmisi tergeser ke R (reverse)
mobilnya mundur pelan tanpa aku sadari.. dan.. "duk"..
Itulah bunyinya, terkena Honda CR-V di blakangku
Blaik, jantungku rasane wes meh copot
bejo CR-Vne ndak napa2, pas takliat bemper belakangku mbaret sitik sepanjang 1cm sih..

...
Sesampainya di Saraga
Mati aku, pembantaian kakiku baru akan segera dimulai
Padahal minggu lalu saat ujicoba lari pertama kali, sampe 18.03 menit.. itu ndak lulus yo.. batesnya 18 menit..
(FYI Spesifikasi UTS OR : Lari 6x Lap di Saraga, @400meter, total 2.4KM, harus dibawah 18menit!! Bayangkan, beratku aja 75 kg dan jarang latihan lari.. )
Kali ini aku berlari giliran kedua. Partnerku (namane Ramos kalo ndak salah) lari sek, aku yg ngitung'i..
Kyaaa!! Partnerku 13.45 menit!! Aku mengko kayak piye ki.. Wes makin desperate ae

(10 Menit Kemudian)
It's my time now..
Priittt!! peluit yg menggelegar menyeramkan menandai dimulainya pembantaian ini
Eit, masih ada cobaan berikutnya
Pas lari, terjadilah hujan yg semakin deras
Padahal pas partnerku tadi gerimis tok lho
...
Jadilah saya berlari di tengah guyuran air
lintasan yg becek menyumbang cipratan tanah di bajuku
mengisi air dan pasir di dalam sepatuku (halah)

(beberapa belas menit kemudian)
Ayo.. ini lap terakhir
jangan jalan, terus lari
ya.. itu garis finish sudah dekat
dan..
Akhirnya
selesai sudah my last trial today
Brapakah waktuku?
...
...
Dari mulut partnerku terucap, "Enam belas menit tiga puluh detik"
JDERR!!!
Semua rasa pusing, capek, sakit serasa hilang..
Akhirnya aku lulus sodara2!!

At last.. semua cobaan hari ini terbayar dengan UTS OR ini..
Terima kasih Tuhan!!

Pesan Moral : hadapilah cobaan hidup dengan tabah & sabar, pada waktunya Tuhan akan memberikan hadiah untukmu..

Thursday, February 12, 2009

Menangkap Cahaya.. Dan Melukiskannya..


Setiap pandangan yang mempesona,
Menuliskan sebuah rekaman di benakku,
Rekaman yang tertulis oleh cahaya,
Oleh cahaya yang melalui mataku

Setiap keindahan dunia,
Setiap ciptaan-Nya yang semesta,
Menorehkan masing-masing cerita,
Cerita yang terus berjalan nyata

Ingin aku menangkap cerita itu,
Lewat cahaya yang dipancarkannya,
Melukiskannya dalam satu waktu,
Dan membagi sebuah cerita

Kuperintahkan pelukis terkenal itu,
Untuk melihat sebuah cerita,
Dan melukiskannya satu per satu.
Pelukis itu adalah.. Kamera.

Ketika mataku searah dengannya,
Ketika ia memberiku seberkas cahaya,
Ketika hatiku sejalan dengannya,
Kuperintahkan sebuah kedipan lensa.

Sejenak kurasakan kedipan penuh makna,
Sebuah getaran pelukis di dalam genggaman,
Saat ia telah menangkap cahaya,
Saat ia sedang menorehkan sebuah lukisan.

Terciptalah sebuah cerita,
Dimana bisa kubagi bersamamu,
Dimana orang bisa merasakan cahaya,
Cahaya yang pernah melalui mataku.

Aku rindu saat-saat itu,
Saat ketika aku bisa melukis,
Saat ketika indahnya cahaya melaju,
Membiarkan diri untuk dilukis.

Kini kutinggalkan pelukis itu,
Namun bukan selamanya tak tentu,
Karena suatu waktu,
Akan tiba saatnya bertemu,
Mengulang masa-masa dahulu,
Masa menangkap cerita baru,
Dan melukiskannya di hatiku.


(Bandung, 12 Februari 2009, 21:10 WIB)
(Kerinduan seorang Tukang Foto pada kameranya)

Monday, February 9, 2009

Hari yang Membosankan..

Ok, hari ini memang hari Senin seperti biasanya. Kuliah seperti biasa. Rutinitas seperti biasa. Dan.. Kebosanan seperti biasa. Huuhhh.. Tadi ada kuliah apa saja sih? Oh ya, ada Fisika, Kalkulus, Rangkaian Elektrik, dan terakhir Sistem Alam & Semesta.

Pagi hari saya mulai dengan datang sampai di kampus pukul 06.30. Hmm... masih pagi benar. Udara terasa sejuk, jalan2 bentar lah di sekitar GKU Barat ITB. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7.10.. "koq dosen fisikanya belum dateng juga?" pikir saya. Alkisah waktu dipercepat hingga jam tangan saya menunjukkan pukul 8 pagi. Masih belum dateng juga!?!?!?! Wah, pasti nggak datang nih dosen. Namun sambil saya mengobrol di depan ruang kuliah.. eh tiba-tiba!! Pukul 08.15 di jam tangan saya berbarengan dengan munculnya Si Bagus Endar, dosen Fisika saya yang sudah lama ditunggu2! Akhirnya saya masuk kelas, pelajaran dimulai. Aduh Pak, telat koq sampai 1 jam lebih. Maka terjadilah kuliah fisika saya yang hanya berlangsung selama 45 menit saja.

Next, kuliah kalkulus. Nothing special. Seperti hari biasa juga. Dosen kalkulus yang kocak, pelajaran baru, catatan baru. Selesai. Istirahat. Makan bareng temen. Kuliah lagi. Kali ini kuliah Rangkaian Elektrik. Udah gitu dosennya marah2 terus lagi.. ihh.. but nothing special.. again. Next, kuliah Sistem Alam & Semesta. Berlalu dengan membosankan. Seperti biasa. Hari yang biasa. Selesai pukul 16.30.

Nah.. berikutnya adalah rapat SKB yang diselenggarakan KMK. Okelah, saya coba ikut, jarang juga saya ikut acara beginian rupanya. Yaa.. rapat yang kalian tahu.. "membosankan" lagi. Meski sempat seru juga sih saat pemilihan Kepala Divisi masing2 SKB. Tapi, selesai. Berlalu begitu saja. Pulang. Mandi. Makan. Akhirnya nulis blog ini. Buka facebook, lihat blog orang. Wuehhh... benar2 hari yang sangat monoton, membosankan, datar.. apapun lah kalian mau sebut.

Oh iya, saya tahu dari facebook, ada acara "Gemakustik" di GEMA Jl. Sultan Agung. Acaranya saat hari Sabtu, 14 Februari 2009. Hey, itu kan hari Valentine! Ya udah.. saya berencana ikut. Daripada terbunuh oleh kebosanan yang memang membosankan. (Halah..)

Sebaiknya ngapain ya teman2? Ada cara untuk mengusir kebosanan? Huhh..T_T


Thursday, January 22, 2009

Pidato Obama Bahasa Indonesia

Setelah mem-posting dalam bahasa Inggris, saya tertarik menampilkan pidato Obama dalam bahasa Indonesia, agar mudah lebih dipahami teman-teman.

Ini pidato Obama dalam versi bahasa Indonesianya. Semoga bisa membantu mengerti isi pidato Obama sebelumnya.

OBAMA: Warga setanah-airku :

Saya berdiri disini dengan rendah hati atas tugas yang kita emban, berterima kasih atas kepercayaan yang telah anda berikan, sadar akan pengorbanan oleh nenek moyang kita. Saya berterima kasih kepada Presiden Bush atas jasanya terhadap bangsa, serta kemurahan hati dan kerjasama yang dia tunjukkan selama transisi ini.

Empat puluh empat orang Amerika telah mengambil sumpah presiden. Kata-kata telah diucapkan selama bangkitnya gelombang kesejahteraan dan perdamaian masih terjaga. Namun, seringkali sumpah diambil di tengah-tengah awan dan badai hebat. Pada momen tersebut, Amerika telah dibawa bukan hanya karena keahlian atau visi di kantor penguasa, tapi karena kita orang-orang yang tetap setia kepada cita-cita pendiri kita, dan sejalan dengan dokumen pendiri kita.

Maka terjadi sudah. Maka ini yang harus terjadi dengan generasi Amerika ini.

Bahwa kita berada di tengah-tengah krisis sekarang haruslah dipahami. Bangsa kita sedang dalam perang, terhadap jaringan kekerasan dan kebencian. Perekonomian kita yang sangat lemah, akibat dari keserakahan dan ketidaktanggungjawaban beberapa kelompok, tetapi juga akibat kegagalan kolektif kita untuk membuat pilihan sulit dan mempersiapkan bangsa untuk zaman yang baru. Rumah-rumah telah hilang; pekerjaan hilang; bisnis-bisnis merana.Perawatan kesehatan kita terlalu mahal, sekolah kita gagal terlalu banyak, dan setiap hari memberikan bukti lebih lanjut bahwa cara kita menggunakan energi mengancam planet kita.

Ini adalah indikator krisis, sesuai data dan statistik. Kurang terukur namun tidak kurang mendalam adalah krisis keyakinan di seluruh tanah air kita - Sebuah ketakutan bahwa penurunan Amerika tak dapat dihindarkan, dan bahwa generasi berikutnya harus menurunkan pandangannya.

Hari ini saya katakan kepada Anda bahwa tantangan yang kita hadapi adalah nyata. Tantangan tersebut serius dan banyak. Mereka tidak akan dengan mudah teratasi dalam kurun waktu singkat. Tapi ketahuilah ini, Amerika - mereka akan teratasi.

Pada hari ini, kita berkumpul karena kita lebih memilih harapan daripada ketakutan, kesatuan daripada konflik dan perpecahan.

Pada hari ini, kita datang untuk menyatakan akhir dari keluhan dan janji-janji palsu, tuduhan dan dogma-dogma kadaluarsa, yang sudah terlalu lama menghambat politik kita.

Kita tetap sebuah bangsa yang muda, tetapi dalam kata-kata Alkitab, Telah tiba waktunya untuk menyisihkan sifat kekanak-kanakan. Waktu telah tiba untuk memperbarui semangat kita, untuk membentuk sejarah yang lebih baik, untuk meneruskan warisan yang berharga, bahwa ide mulia, disampaikan dari generasi ke generasi: Janji yang diberikan Tuhan bahwa semua orang sama, semua bebas dan semua memiliki kesempatan untuk mengejar kebahagiaan mereka.

Dalam membentuk kembali kebesaran bangsa kita, kita memahami bahwa kebesaran tidak pernah berupa pemberian. Kebesaran harus diraih sendiri. Perjalanan kita bukanlah dengan menggunakan cara pintas atau berdiam saja. Perjalanan kita bukan untuk orang berhati kotor - untuk mereka yang lebih memilih liburan daripada bekerja, atau hanya mencari kenikmatan dari kekayaan dan ketenaran. Sebaliknya, adalah para pengambil risiko, pekerja, pembuat keputusan - yang telah membawa kita ke jalan yang panjang menuju kemakmuran dan kebebasan.

Bagi kita, mereka mengemas sedikit harta duniawi dan bepergian di lautan dalam mencari kehidupan baru.

Bagi kita, mereka bersusah-payah dan menetap di Barat; bertahan dengan cambuk dan membajak tanah bumi yang keras.

Bagi kita, mereka berjuang dan mati, di tempat-tempat seperti Concord dan Gettysburg; Normandy dan Khe Sanh.

Kali ini, lagi, laki-laki dan perempuan telah berjuang dan berkorban, bekerja supaya kita hidup lebih baik. Mereka melihat Amerika lebih besar daripada total ambisi-ambisi kita, lebih besar daripada semua perbedaan, kelahiran, atau kekayaan atau ras.

Ini adalah perjalanan yang kita lanjutkan hari ini. Kita masih negara yang paling makmur, Negara yang kuat di dunia. Pekerja kita tidak kurang produktif dibandingkan pada saat krisis ini mulai. Pikiran kita tidak kurang kreatif, barang dan jasa yang diperlukan tidak kurang daripada minggu terakhir, bulan terakhir, atau tahun terakhir. Kapasitas kita tetap tidak berkurang. Tapi waktu dimana kita berdiri pincang, untuk melindungi kepentingan segelintir orang dan meletakkan keputusan tak menyenangkan - waktu itu benar-benar telah berlalu. Mulai hari ini, kita harus memilih diri kita untuk bangkit, memaksa diri kita bekerja keras, dan memulai lagi usaha untuk membangun kembali Amerika.

Kemanapun kita melihat, banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Keadaan ekonomi kita memanggil kita untuk bertindak berani dan cepat, dan kita akan bertindak - tidak hanya untuk menciptakan pekerjaan baru, tetapi untuk meletakkan dasar yang baru untuk pertumbuhan. Kami akan membangun jalan dan jembatan, listrik, dan saluran digital yang menopang perdagangan kita dan mengikat kita bersama. Kami akan mengembangkan ilmu ke arah yang sebenarnya, dan menggunakan keajaiban teknologi untuk meningkatkan kualitas kesehatan dengan biaya yang lebih rendah. Kami akan mendayagunakan matahari dan angin dan tanah untuk menjalankan mobil kita dan menjalankan pabrik. Dan kita akan kita mentransformasi sekolah dan universitas untuk memenuhi tuntutan jaman baru. Semua ini yang dapat kita lakukan. Semua ini akan kita lakukan.

Sekarang, ada beberapa orang yang menanyakan skala ambisi kita - yang menunjukkan bahwa sistem kita tidak dapat mentolerir terlalu banyak rencana besar. Ingatan mereka sangat singkat. Sebab mereka telah melupakan apa negara ini telah lakukan; apa yang laki-laki dan perempuan dapat capai ketika imajinasi bergabung dengan tujuan bersama, dan perlunya keberanian.

Apa yang gagal dipahami oleh orang sinis adalah bahwa tanah telah berubah di bawah mereka - bahwa argumen politik buntu yang telah kita konsumsi begitu lama tidak lagi berlaku. Pertanyaan kita hari ini bukanlah apakah pemerintahan terlalu besar atau terlalu kecil, tapi bagaimanakah pemerintahan bekerja - baik membantu keluarga mencari pekerjaan dengan upah yang layak, kesehatan yang terjangkau, pensiun yang bermartabat. Jika jawabannya adalah ya, kita berniat untuk maju. Jika jawabannya adalah tidak, program akan berakhir. Orang-orang kita yang memanajemen uang rakyat akan dimasukkan dalam perhitungan akuntansi - untuk menggunakannya secara bijak, mereformasi kebiasaan buruk, dan melakukan bisnis kita dalam kepercayaan - karena hanya dengan begitu kita kemudian dapat mengembalikan kepercayaan antara masyarakat dan pemerintah.

Dan pula ada pertanyaan pada kita apakah pasar adalah kekuatan yang baik atau tidak. Kekuatannya untuk menghasilkan kekayaan dan memperluas kebebasan memang tidak ada bandingannya, tapi krisis ini telah mengingatkan kita bahwa tanpa mata yang waspada, pasar dapat berputar kontrol - dan sebuah bangsa tidak dapat bertahan lama ketika hanya berfokus pada kemakmuran. Keberhasilan perekonomian kita tidak hanya bergantung pada ukuran produk domestik bruto kita, tetapi juga pada pencapaian kita akan kesejahteraan; pada kemampuan kita untuk memperluas kesempatan untuk setiap kemauan hati - bukan karena rasa kasihan, tetapi karena itu adalah jalan kita menuju kebaikan bersama.

Adapun untuk pertahanan kita, kita tidak memilih antara keselamatan kita dan cita-cita kita. Bapak-bapak pendiri kita,(Pendiri Amerika dulu maksudnya..) menghadapi bahaya yang hampir tidak dapat kita bayangkan, merancang sebuah piagam yang dirancang untuk menjamin supremasi hukum dan hak-hak manusia, sebuah piagam yang dibangun oleh darah generasi kita. Cita-cita mereka masih menerangi dunia, dan kita tidak akan mengecewakan mereka demi manfaat kita. Dan juga kepada semua orang dan pemerintah yang menonton hari ini, kota terbesar ke desa terkecil di mana ayah saya lahir: tahu bahwa Amerika adalah teman dari setiap bangsa dan setiap laki-laki, perempuan dan anak yang mencari sebuah masa depan damai dan bermartabat, dan bahwa kita siap untuk memimpin sekali lagi.

(added January, 22th)
Ingat bahwa generasi sebelumnya menghadapi fasisme dan komunisme tidak hanya dengan rudal dan tank, namun juga dengan aliansi kuat dan keyakinan yang tak kenal lelah. Mereka memahami bahwa kekuatan kita sendiri tidak dapat melindungi kita, juga tidak memberikan kita kemampuan untuk melakukan seperti yang kita inginkan. Sebaliknya, mereka tahu bahwa kekuatan kita tumbuh melalui penggunaan kekuasaan secara bijaksana, keamanan kita berasal dari kebenaran, kekuatan, perubahan kualitas manusia, serta cara mengendalikannya.

Kita adalah para penjaga warisan ini. Dipandu oleh prinsip-prinsip ini sekali lagi, kita dapat menghadapi ancaman-ancaman baru yang meminta penanganan lebih besar - bahkan kerjasama yang lebih besar dan pengertian diantara bangsa-bangsa. Kami akan mulai meninggalkan Irak agar dipegang sendiri oleh rakyatnya, dan membentuk perdamaian di Afghanistan. Dengan teman-teman lama dan sekutu sebelumnya, kita akan bekerja tak kenal lelah untuk mengurangi ancaman nuklir, dan mencegah ancaman pemanasan global. Kita tidak akan menyesal dengan cara hidup kita, kita tidak akan ragu-ragu dalam pertahanan, dan untuk mereka yang berniat mencapai tujuan mereka dengan terror dan membunuh orang tak bersalah, kita katakan kepada anda sekarang bahwa semangat kita lebih kuat dan tidak dapat dihancurkan; Anda tidak dapat hidup lebih lama dari kita, dan kita akan mengalahkan Anda.

Sebab kita tahu bahwa kita keberagaman dan perbedaan adalah kekuatan, bukan kelemahan. Kita adalah bangsa Muslim dan Kristiani, Hindu dan Yahudi - dan orang yang non-beriman. Kita dibentuk oleh setiap bahasa dan budaya, yang mencerminkan setiap ujung dunia ini, dan karena kita telah merasakan pahit dari perang saudara dan pemisahan, dan muncul dari babak gelap, lebih kuat dan bersatu, kita tidak dapat membantu tetapi percaya bahwa kebencian lama suatu hari akan hilang; bahwa garis-garis suku akan segera menghilang; seiring dunia tumbuh lebih kecil, kemanusiaan kita akan menunjukan jatidirinya, dan bahwa Amerika harus memainkan perannya dalam mengantar pada era baru perdamaian.

Kepada dunia Muslim, kita mencari cara baru untuk maju, berdasarkan kepentingan bersama dan saling menghormati. Kepada pemimpin di seluruh dunia yang berusaha untuk menanamkan konflik, atau menyalahkan penyakit sosial di Barat – Ketahuilah bahwa rakyat anda akan menilai anda dari apa yang Anda bangun, bukan apa yang anda hancurkan. Untuk orang-orang yang berpegang teguh kepada kuasa melalui korupsi dan kebohongan dan tutup mulut dari perbedaan pendapat, sadarlah bahwa Anda sedang berada di sisi yang salah dalam sejarah, tetapi kita akan mengulurkan tangan jika Anda bersedia meninggalkan itu semua.

Kepada masyarakat bangsa miskin, kita berjanji untuk bekerja bersama Anda untuk membuat sawah anda berpanen dan mengalirkan air bersih, untuk memuaskan kelaparan tubuh dan pikiran. Dan kepada bangsa seperti kita yang sudah menikmati kecukupan, kita katakan kita tidak bisa lagi mengacuhkan penderitaan di luar Negara kita, dan kita tidak bisa mengkonsumsi sumber daya dunia tanpa mempedulikan efeknya. Karena dunia telah berubah, dan kita harus berubah mengikutinya.

Sambil kita mempertimbangkan jalan yang terbentang di depan kita, kita mengingat dengan rasa terima kasih orang-orang Amerika yang gagah berani, yang pada saat ini, berpatroli di gurun dan gunung yang sangat jauh. Ada sesuatu yang hendak mereka katakan pada kita hari ini, seperti yang dibisikkan sepanjang masa oleh para pahlawan kita yang kini dimakamkan di Arlington. Kita menghormati mereka bukan hanya karena mereka menjaga kebebasan kita tetapi karena mereka menunjukkan arti pengorbanan, kesediaan untuk mencari arti yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Dan pada saat ini, saat yang akan tercatat dalam sejarah generasi—semangat inilah yang harus ada pada kita semua.

Sebanyak apapun yang bisa dan harus dilakukan pemerintah, pada akhirnya kepercayaan dan tekad rakyat Amerika-lah yang diandalkan negara ini. Misalnya kebaikan hati untuk menampung orang yang kena musibah walaupun tidak kita kenal, atau pekerja yang tanpa pamrih rela mengurangi jam kerja mereka daripada melihat seorang teman di-PHK, yang membuat kita keluar dari kegelapan. Adalah keberanian para pemadam kebakaran untuk menerobos masuk ke rumah yang penuh asap, dan juga kesediaan orang tua untuk membesarkan anak, yang kelak akan menentukan nasib kita.

Tantangan kita mungkin baru. Alat-alat yang kita gunakan untuk mengatasinya mungkin baru. Tetapi pada nilai-nilai itulah keberhasilan kita bergantung—yaitu kerja keras dan kejujuran, ketabahan dan berlaku secara adil, toleransi dan rasa ingin tahu, kesetiaan dan patriotisme—semua itu sudah lama ada. Semua itu memang benar. Semua itu telah menjadi kekuatan kemajuan sepanjang sejarah. Jadi yang dituntut sekarang adalah kembalinya kepada nilai-nilai ini. Apa yang diperlukan dari kita sekarang ini adalah era pertanggungjawaban yang baru—suatu pengakuan, dari tiap orang Amerika, bahwa kita mempunyai kewajiban bagi diri kita sendiri, bagi negara kita dan bagi dunia, kewajiban yang kita lakukan dengan senang hati, bukan dengan bersungut-sungut, karena kita tahu tidak ada yang lebih memuaskan bagi jiwa kita, yang merupakan definisi karakter kita, daripada memberikan segalanya untuk menyelesaikan tugas yang sulit.

Inilah pengorbanan dan janji kewarganegaraan.

Inilah yang menjadi sumber keyakinan kita—pengetahuan bahwa Tuhan meminta kita untuk memperbaiki keadaan yang tidak pasti.

Inilah arti kebebasan dan kepercayaan kita—mengapa laki-laki dan perempuan dan anak-anak dari tiap ras dan tiap keyakinan bisa ikut dalam perayaan di lapangan yang indah ini, dan mengapa seorang lelaki yang ayahnya lebih 60 tahun lalu mungkin tidak dilayani di restoran, sekarang bisa berdiri di depan anda untuk diambil sumpahnya sebagai presiden.

Jadi marilah kita hari ini mengenang siapa kita dan sejauh mana jalan yang kita tempuh. Pada tahun kelahiran Amerika, pada bulan yang terdingin, sekelompok patriot berkumpul di depan api unggun yang mulai padam di bantaran sungai yang beku. Ibukota telah ditinggalkan, musuh terus maju, salju tampak berlumuran darah. Pada saat itu, ketika nasib revolusi kita sangat diragukan, bapak bangsa kita memerintahkan supaya kalimat berikut dibacakan kepada semua rakyat Amerika:

“Beritahukan pada dunia masa depan, bahwa di tengah musim dingin, saat apapun tiada kecuali harapan dan kebajikan — bahwa kota dan negara, waspada akan bahaya bersama, akhirnya bersatu untuk menghadapinya.”

Amerika, dalam menghadapi musuh bersama, dalam masa sulit kita ini, mari kita ingat kata-kata emas itu. Dengan harapan dan kebajikan, mari kita hadapi bersama sekali lagi sungai beku ini, dan bertahan dari badai apapun yang akan tiba. Biarkan cucu-cucu kita berkata bahwa kita telah diuji dan kita menolak untuk mengakhiri perjalanan ini, bahwa kita tidak mundur dan mata kita terpaku ke ufuk fajar dan dengan berkat Tuhan, kita meneruskan anugerah kebebasan dan mengantarkannya dengan selamat bagi generasi masa depan.

Terima kasih. Tuhan memberkati anda. Dan Tuhan memberkati Amerika.